"Pemerataan Pendidikan Sebagai Gerbang Awal Merdeka Belajar"
“Pemerataan Pendidikan Sebagai Gerbang Awal Merdeka Belajar”
Avina Gabriella Pranomo
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi bagi kita, terutama untuk anak-anak yang se dari kecilnya membutuhkan bimbingan ilmu, arahan, dan keterampilan untuk bekalnya di masa depan. Dengan adanya pendidikan, maka suatu wilayah yang dalamnya terdapat penduduk berpendidikan bisa membawa wilayah tersebut maju dalam bidang yang dipelajari. Untuk mewujudkannya, diperlukan aspek-aspek dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah aspek pemerataan pendidikan. Melihat pemerataan pendidikan di Indonesia belum rata dan belum terpenuhi semuanya. Hal ini terjadi karena Indonesia mempunyai banyak pulau dan daerah, yang mana masih ada daerah pedalaman yang tertinggal. Penyebabnya karena minimnya gedung sekolah, guru, dan fasilitas. Ada juga faktanya karena pendapatan para guru dibawah UMR (Upah Minimum Regional) sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) tidak memadai. Tidak hanya itu saja, tapi faktor lainnya yaitu masih banyak anak yang tidak melanjutkan sekolah atau putus sekolah karena faktor ekonomi keluarga, sosial, bahkan ada juga berkaitan dengan psikologi anak. Pendidikan di Indonesia harus diperhatikan oleh pemerintah karena menjadi suatu kerinduan untuk seluruh anak bangsa bisa mengenyam standar pendidikan yang sama, memadai dan bermutu demi tercapainya cita-cita bangsa yang tertuang dalam UUD 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut Arfando dari artikel internet Kompasiana, Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas- luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan Sumber Daya Manusia untuk menunjang pembangunan. Pemerataan Pendidikan dibutuhkan agar tidak ada perbedaan atau kecemburuan dalam hal ketersediaan fasilitas pada daerah tertentu. Dari sini, kita tahu bahwa pemerataan pendidikan sangat lah penting bagi kehidupan bangsa.
Adanya fakta lain yang mengatakan bahwa penyebabnya juga karena kurangnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Ini pun bisa terjadi dikarenakan sulitnya menjangkau daerah tertentu sehingga tidak ada komunikasi. Kita bisa mengetahui bahwa pemerataan pendidikan di daerah pedalaman tertinggal dengan daerah kota. Banyak anak- anak pedalaman atau desa yang terpaksa harus mengubur mimpi mereka dalam-dalam karena pandangan akan kemustahilan menggapai impian tersebut. Misalnya, seseorang ingin menjadi dokter. Tetapi karena biaya pendidkan menjadi seorang dokter itu mahal ditambah lagi dengan tidak ada ketersediaan universitas kedokteran di daerahnya, maka anak tersebut tidak jadi melanjutkan studinya baik menjadi dokter. Penyebab utamanya adalah kurang atau bahkan tidak ada tempat mereka bisa menimba ilmu pendidikan seperti sekolah. Tidak heran, sering kita ketahui adanya pernikahan dini di daerah pedalaman atau desa. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan peran pemerintah dalam hal aspirasi, masukan, dan kritik yang diberikan kepada masyarakat, tentunya dapat membawa perubahan pada daerah yang memang sulit dijangkau oleh pemerintah pusat, daerah, dan Lembaga pendidikan daerah sekitar. Perlu dipertimbangkan juga bagi
pemerintah memberi perhatian tentang upah terhadap tenaga pendidik baik di kota maupun yang ada di pedalaman. Dengan begitu, mungkin saja bisa memberi mereka semangat untuk mengajar. Adanya pelatihan terhadap tenaga pendidik juga perlu diperhatikan agar mereka siap mengajar anak-anak dengan baik dan benar.
Dua tahun terakhir menjadi titik berat bagi sejarah pendidikan Indonesia dikarenakan terjadinya Pandemi Covid 19. Sistem pembelajaran berubah drastis yang awalnya sistem pembelajaran dilakukan secara offline atau tatap muka, tetapi akibat pandemi hampir 2 tahun pembelajaran dilakukan secara online atau virtual yang memerlukan setidaknya smartphone dan terutama jaringan internet. Hal ini pun menjadi persoalan besar bagi dunia pendidikan Negara Indonesia karena tidak semua murid yang mempunyai smartphone dan kuota internet. Karenanya menyebabkan kesenjangan pendidikan yang dialami oleh para pelajar di pedalaman atau desa. Ada juga yang dikarenakan tidak adanya jaringaninternet di daerahnya. Masa-masa itulah yang menjadi masa yang berat bagi anak-anak yang haus akan pendidikan pada saat itu.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim Detiknews dan Inovasi, kerugian belajar akibat pandemi terjadi secara tidak merata. Setelah 1 tahun pandemic, hasil belajar literasi dan numerasi siswa di wilayah timur Indonesia tertinggal sekitar 8 bulan belajar dibanding mereka yang tinggal di wilayah barat. Siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar, seperti buku teks, tertinggal 14 bulan belajar dibanding mereka yang memilikinya. Sementara itu, siswa yang ibunya tidak bisa membaca bahkan tertinggal 20 bulan belajar dibanding mereka yang ibunya bisa membaca. Belum lagi saat penutupan sekolah, sistem pembelajaran beralih menjadi online atau virtual mengharuskan peserta didiknya memiliki perangkat digital dan akses internet di rumah. Anak-anak pun menjadi tidak semangat dan ada juga yang harus putus sekolah karena fasilitas pembelajaran online yang tidak memadai dan juga ekonomi keluarganya yang anjlok pada saat pandemi Covid 19. Dalam hal ini, kita bisa lihat bahwa, kebutuhan perangkat digital seperti smartphone dan komputer di daerah pedalaman berpenduduk tidak mamadai atau bahkan tidak ada. Tidak semua sekolah di daerah pedalaman atau desa mempunyai komputer dan jaringan internet di daerahnya. Oleh sebab itu, untuk mendukung program pemerintah yang mengatakan bahwa ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi pelajaran wajib maka pemerataan fasilitas pendidikan sudah seharusnya terpenuhi untuk sekolah-sekolah seluruh Indonesia baik kota maupun desa.
Jika satu per satu aspek telah terpenuhi, maka kita bisa fokus pada pengembangan kurikulum “Merdeka Belajar” yang diusung oleh Menteri Pendidikan Republik Indonesia sekarang yaitu Bapak Nadiem Anwar Makarim. Tentu kurikulum ini bertujuan untuk memajukan mutu pendidikan Indonesia yang berfokuskan pada hal minat bakat pelajar. Kurikulum ini di setiap jenjang pendidikan memiliki sistem yang berbeda, namum memiliki tujuan yang sama agar para pelajar mendapat kebebasan untuk mengenyam ilmu yang disukai sesuai bakat dan minatnya. Dalam dunia perkuliahan, program merdeka belajarnya disebut Kampus Merdeka. Program ini memberi mahasiswa kesempatan untuk mempelajari sesuatu di luar program studi yang ditempuhnya. Keuntungan Mahasiswa yang bisa didapat dari Sistem Kampus Merdeka ini adalah pertukaran pelajar, praktik kerja (magang), penelitian,
proyek independent, wirausaha, menjadi asisten pengajar, juga Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tentunya ada kelebihan dan kekurangan dalam hal yang dicanangkan. Kelebihan dari kurikulum ini adalah adanya proyek tertentu yang harus dilakukan para peserta didik sehingga dapat membuat mereka menjadi lebih aktif dalam upaya mengeksplor diri. Selain itu, lebih interaktif dan relevan mengikuti perkembangan zaman. Ada juga yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan kurikulum Merdeka Belajar yang masih belum matang, yaitu kurangnya kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan kurikulum ini.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kurikulum Merdeka Belajar diperlukan adanya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan dmikian, ketidakmerataan fasilitas pendidikan perlu segera diatasi supaya program pendidikan selanjutnya bisa diwujudkan dan tidak ada daerah yang tertinggal.
#KampusMerdeka #KampusMengajar
Komentar
Posting Komentar